Sepanjang sejarah sosiologi, banyak teori yang sibuk membahas hakikat masyarakat modern, namun seringkali mengabaikan sumber ketidaksetaraan yang dialami oleh sebagian besar penduduk dunia, khususnya perempuan. Asumsi yang ada adalah bahwa dunia yang dialami oleh laki-laki adalah sama dengan dunia yang dialami perempuan.
Hal ini berubah ketika pada tahun 1960-an, gelombang politik dan gerakan perempuan semakin berkembang, terutama menjelang akhir abad ke-20. Perteorian feminis menjadi bagian tak terpisahkan dari sosiologi. Pada apa yang dikenal dengan “gelombang kedua” feminisme, teori-teori sosiologi mulai dikonstruksi untuk menjelaskan pengalaman spesifik kaum perempuan, sekaligus mengungkap perjalanan sosial menuju emansipasi dan pencapaian perempuan. Teori-teori feminis berusaha menggambarkan kemajuan melalui teori manusia, di mana teori tersebut juga berfokus pada bagaimana penilaian terhadap kondisi sosial yang dihadapi perempuan membuka kesempatan untuk merekonstruksi dunia mereka dan memberikan prospek kebebasan di masa depan.
Gerakan Gender dalam Transformasi Perempuan
Gender sebagai alat analisis digunakan untuk memusatkan perhatian pada ketidakadilan struktural yang ditimbulkan oleh ketidaksetaraan gender. Oakley (1972), dalam Sex, Gender, and Society, menjelaskan bahwa gender merujuk pada perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang bersifat sosial dan kultural, bukan biologis. Sementara itu, jenis kelamin (sex) merujuk pada perbedaan biologis yang memang sudah ditentukan secara alami. Caplan (1987) menambahkan bahwa perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan bukan hanya faktor biologis, tetapi juga karena proses sosial dan budaya yang panjang. Oleh karena itu, gender selalu berubah dari waktu ke waktu dan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya, sedangkan jenis kelamin biologis tetap tidak berubah.
Perbedaan gender ini selanjutnya membentuk peran gender yang dianggap wajar dan tidak perlu dipersoalkan. Misalnya, perempuan yang secara biologis dapat melahirkan dan menyusui, memiliki peran sebagai pengasuh dan pendidik anak. Tidak ada yang salah dengan peran tersebut, tetapi masalah muncul ketika peran gender dan perbedaan gender menciptakan struktur ketidakadilan. Dalam analisis gender, ketidakadilan ini bisa berupa marginalisasi perempuan dalam ekonomi, subordinasi dalam masyarakat, dan stereotipe gender yang merugikan perempuan.
Manifestasi Ketidakadilan Gender
Melalui analisis gender, beberapa manifestasi ketidakadilan yang dialami oleh perempuan dapat ditemukan, antara lain:
- Marginalisasi Ekonomi: Walaupun tidak semua marginalisasi disebabkan oleh ketidakadilan gender, analisis gender menunjukkan bahwa perempuan seringkali menjadi korban marginalisasi ekonomi karena perbedaan gender.
- Subordinasi Perempuan: Dalam berbagai aspek kehidupan, perempuan seringkali diposisikan sebagai pihak yang lebih rendah, baik dalam rumah tangga, masyarakat, maupun negara. Misalnya, banyak kebijakan yang mengabaikan peran perempuan atau merendahkan peran mereka dalam pengambilan keputusan.
- Stereotipe Negatif: Perempuan sering kali diberi stereotipe yang membatasi potensi mereka, seperti anggapan bahwa perempuan hanya cocok untuk pekerjaan domestik. Hal ini menyebabkan perempuan dibatasi dalam banyak aspek kehidupan.
- Kekerasan Berdasarkan Gender: Kekerasan terhadap perempuan, baik fisik maupun seksual, merupakan bentuk ketidakadilan yang muncul dari stereotipe gender dan struktur sosial yang menempatkan laki-laki lebih unggul secara fisik.
- Beban Kerja Domestik: Peran gender yang mengharuskan perempuan mengelola pekerjaan domestik telah mengarah pada beban kerja yang tidak seimbang, di mana perempuan merasa bertanggung jawab atas segala pekerjaan rumah tangga, sementara laki-laki di banyak budaya tidak terlibat dalam pekerjaan domestik tersebut.
WID dan Developmentalism
Women in Development (WID) adalah pendekatan dalam pembangunan yang menempatkan perempuan sebagai subjek utama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan mereka, khususnya di negara-negara dunia ketiga. Namun, dalam perjalanannya, WID mulai mendapatkan kritik. Banyak pihak, terutama dalam gerakan feminis, menganggap WID sebagai bagian dari agenda dunia pertama yang lebih menekankan pada dominasi daripada pembebasan perempuan.
Pada tahun 1974, konferensi yang diadakan di Wesley College mengenai pengintegrasian perempuan dalam ekonomi nasional menandai dimulainya pembahasan tentang perempuan dalam pembangunan. Namun, kritik terhadap WID muncul karena pendekatan ini lebih fokus pada penekanan perempuan dalam sistem pembangunan ketimbang membebaskan mereka dari ketidakadilan.
Kekerasan Perempuan dan Psikologi Seksual di Papua
Di Papua, masalah kekerasan terhadap perempuan tidak lepas dari relasi kekuasaan yang terbangun antara laki-laki dan perempuan, serta sistem patriarki yang dominan. Dalam konteks ini, kekerasan terhadap perempuan seringkali dianggap sebagai bagian dari budaya, meskipun kenyataannya, faktor-faktor seperti kapitalisme, imperialisme global, dan teknologi turut berperan dalam memperburuk situasi. Kekerasan terhadap perempuan di Papua seringkali berkaitan dengan masalah seksualitas dan maskulinitas yang kuat, di mana perempuan diposisikan lebih rendah dalam struktur sosial dan menjadi korban dari kekerasan fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, kesadaran terhadap ketidakadilan gender di Papua harus terus ditingkatkan, terutama dalam hal perlindungan terhadap perempuan dari berbagai bentuk kekerasan.
Rekomendasi
- Bagi laki-laki dan perempuan, penting untuk memiliki kesadaran moral dan komitmen yang kuat dalam hubungan suami istri.
- Laki-laki yang berkomitmen untuk menikah harus siap untuk mempertanggungjawabkan kehidupan baru tersebut.
- Perempuan perlu memiliki nilai integritas, kebijaksanaan, dan kecerdasan untuk dapat berperan aktif dalam masyarakat.
- Pemilihan pasangan hidup yang tepat akan mempengaruhi keadilan dalam kehidupan sehari-hari.
- Kekerasan terhadap perempuan di Papua bukanlah masalah budaya, melainkan dipengaruhi oleh faktor teknologi, kapitalisme, dan psikologi seksualitas.
- Perlu adanya kurikulum pendidikan seksual dan gender di setiap sekolah agar generasi muda memiliki pemahaman yang lebih baik tentang gender dan seksualitas.
Referensi
- Teori-teori sosiologi
- Analisis gender dan transformasi sosial
Penulis Adalah Eskop Wisabla Mahasiswa Papua yang saat ini Menempu pendidikan di Kota Sorong Papua Barat Daya