Jayapura, Anggrek Papua – Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah, Bunda Maria, serta para leluhur dan kekuatan alam Papua, atas selesainya proses panjang penulisan dan penerbitan dua seri buku yang kini hadir untuk menggambarkan realitas kehidupan dan perjuangan bangsa Papua. Kedua buku ini, yang berisi kumpulan artikel-opini tentang Papua antara tahun 2021 hingga 2023, bukan hanya sebagai karya intelektual, tetapi juga sebagai cerminan dari perjuangan panjang yang sarat dengan penderitaan dan pengorbanan.
Buku pertama, Suara Fajar Timur 1: Memotret Fenomena Paradoks West Papua, mengupas fenomena paradoks sosial, politik, dan budaya yang terus menghantui tanah Papua. Buku setebal lebih dari 700 halaman ini juga menyajikan suara-suara kritis mengenai isu Otonomi Khusus (Otsus), Daerah Otonomi Baru (DOB), serta menggali perjuangan tokoh-tokoh penting Papua seperti Pater Dr. Neles Kebadady Tebay. Selain itu, buku ini menyentuh refleksi mendalam tentang identitas bangsa Papua dan peran Gereja, khususnya melalui Gerakan Pastoral GERTAK yang dipelopori oleh Uskup John Gaiyaibi Saklil.
Buku kedua, Suara Fajar Timur 2: Memotret Fenomena Paradoks West Papua, melanjutkan pembahasan terkait ketidakadilan struktural di Papua. Dengan lebih dari 790 halaman, buku ini mengulas konflik bersenjata antara TNI-Polri dan kelompok pro-kemerdekaan Papua (TNPNPB-OPM), serta menyajikan analisis mendalam tentang agenda tersembunyi negara dalam menguasai Papua. Buku ini juga menggali ketidakrelevanan hukum Indonesia bagi orang asli Papua, serta perjuangan ULMWP (United Liberation Movement for West Papua) untuk menentukan nasib bangsa Papua sendiri. Isu kesetaraan gender dan martabat perempuan Papua juga menjadi sorotan dalam buku ini.
Kedua buku ini hadir untuk menggugah kesadaran kolektif kita mengenai kondisi sesungguhnya yang terjadi di tanah Papua. Di balik kekayaan alamnya, Papua menyimpan luka mendalam yang tak kunjung sembuh. Buku ini mencoba memberikan potret nyata tentang ketidakadilan yang terus berlangsung. Artikel-artikel dalam buku ini menantang pembaca untuk melihat lebih dalam dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi di bumi Papua—tanah yang berlimpah susu dan madu, namun penduduknya hampir punah.
Sebagai karya yang berbicara atas nama nurani dan keadilan, buku ini menjadi panggilan untuk memahami lebih jauh penderitaan yang dialami oleh bangsa Papua di tengah gejolak politik, ekonomi, dan sosial yang tak pernah usai.